Cerita Dewasa

Sex High School part 1

Sex High School, siapa yang tidak mengenal sekolah itu? Sekolah paling terkenal di seluruh dunia sebagai sekolah terbaik. Juga sekolah paling terkutuk di dunia ini. Namaku Choi Eunri, aku adalah anak tunggal keluarga Choi. Aku lah yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan milik keluargaku. Aku begitu membenci SHS. Kenapa? Karena disini rata-rata setiap murid akan dididik menjadi seseorang yang tak tahu malu. Maksudku, berani menunjukan tubuhnya. Tubuh disini benar-benar sebuah TUBUH.

Jika tidak karena Miss Evelyn, kepala sekolah dari sekolah terkutuk ini, aku pasti sudah masuk Choi High School, sekolah milik keluargaku. Miss Evelyn datang ke rumahku dan membuai appa dan eomma mengatakan bahwa SHS akan mendidikku dengan baik, akan menjamin masa depanku, dan segala macam rayuan yang membuat setiap orangtua setuju untuk memasukan anak-anaknya ke dalam SHS. Akhirnya, appa setuju dan besok aku akan mulai bersekolah di SHS. Aku ini salah satu lulusan terbaik kenapa harus masuk ke sekolah ini sih?

Aku menatap sekolah ini. Sangat mewah, benar-benar sangat amat mewah. Gerbangnya saja sudah berarsitektur ala tempat tinggal dewa-dewi Yunani. Aku terkagum-kagum melihatnya. Karena terlalu lama menatap gerbang SHS yang begitu mewah, aku tak sengaja tertabrak seseorang. Aku terjatuh karenanya.

“Ah, mianhae” ucap orang yang menabrakku. Suaranya terdengar sedikit serak, pasti pria.

“Ne, gwenchana” jawabku sambil berdiri kemudian menepuk-nepuk bajuku yang sedikit kotor.

“Kim Heechul imnida!” ucapnya memperkenalkan diri.

“Choi Eunri imnida!” balasku. Aku melihat kearahnya. Astaga, cantik sekali, sungguh sangat cantik. Apa aku salah perkiraan?

“Hahaha… Aku ini pria tulen, Eunri-ah! Hahaha…” ucapnya sambil tertawa seakan membaca pikiranku. Aku tertawa pelan.

“Kajja, kita masuk bersama!” ajakku sambil mengamit tangannya tanpa kecanggungan sedikit pun. Toh dia berwajah seperti wanita, siapa yang akan menduga bahwa dia adalah seorang pria?
‘Kepada setiap murid, saya minta kalian berbaris untuk mengambil undian kamar, buku-buku dan seragam. Saya harap kalian segera berganti pakaian dengan seragam yang telah ditentukan dan berkumpul di aula!’ suara speaker yang aku dan Heechul dengar membuat kami berdua secepat mungkin masuk ke barisan. Kebetulan masih cukup sepi jadi kami bisa cepat mendapat undian.

“Aku mendapat kamar 18!” seruku kepada Heechul.

“Ini memang takdir! Aku kamar 19!” teriak Heechul kegirangan. Aku dan Heechul berpelukan dengan gembira. “Kajja!” ajaknya sambil mengamit tanganku. Jika seperti ini aku jadi merasa seperti sepasang kekasih. Hahaha…

“Ngg… Kamar 16, 17 dan cha… ini kamar 18!” gumamku. “Ya sudah, aku sebaiknya kita berganti pakaian, aku yakin kita akan dihukum jika tidak sesegera mungkin!” Heechul mengangguk.

Aku memasuki kamar 18. Nafasku tercekat melihat kamar ini. Benar-benar mewah! Ini kamar untuk raja dan ratu. Sebuah ranjang king size, dua lemari yang berseberangan, dua meja berlajar yang berseberangan, dua buah rak buku yang berseberangan, lampu mewah, dindingnya berwarna putih gading berkesan mewah dan karpet bulu yang sangat lembut. Benar-benar mewah sekali! Eh… Tapi untuk apa ada dua buah lemari, dua buah meja belajar dan dua buah rak buku di dalam satu kamar? Bukannya hanya aku saja yang akan tinggal disini.

Ah… terserah! Aku tak mau tahu. Aku segera berganti pakaian. Aku melotot menatap seragam sekolah ini, hanya ada rok berwarna merah kotak-kotak yang 30 cm diatas lutut dan atasan yang lebih mirip bra dengan kancing di bagian tengah dekat lipatan dada serta dasi yang tak panjang dan bahkan hanya sampai diatas belahan dadaku berwarna senada dengan rok. Sial… ini benar-benar sial! Aku segera memakai baju ini dan sebuah sepatu boot selutut dengan hak setinggi 7 cm yang sudah disediakan sekolah. Gila, ini benar-benar gila.

Aku segera berjalan keluar, aku melihat Heechul. Seragamnya juga tak kalah gila. Celana panjang berwarna hitam kotak-kotak tanpa ada pakaian yang menutupi bagian atasnya dan dasi bewarna senada dengan celana panjangnya. Dia mungkin tidak terlalu berotot tapi cukup bagus untuk ukuran seorang pria. Dia tampak terkejut menatapku.

“Jangan melihat diriku seperti itu!” ucapku galak. Dia tertawa renyah.

“Arra, arra. Kajja!” dia langsung menarik tanganku. Kami tertawa dan bercanda bersama.

“Kita duduk disana saja!” kataku sambil menunjuk salah satu bangku di depan. Heechul menyetujui ajakanku dan kami segera duduk.

Aku dan Heechul bercanda. Tak lama ada beberapa orang yang masuk dengan pakaian yang sama dengan kami. Aku tidak begitu peduli. Toh sudah ada Heechul yang setia bersamaku.

Tak lama, ada seorang wanita paruh baya naik keatas panggung. Siapa lagi itu kalau bukan miss Evelyn. Aku mendengus kesal melihatnya.

“Kalian benar-benar telah mematuhi aturan. Saya bangga terhadap kalian. Seragam ini hanya dipakai saat hari yang khusus saja. Jika saya meminta kalian memakai pakaian ini, kalian wajib memakainya.” kata miss Evelyn. Aku hanya mendengus kesal, aku benci memakai seragam ini. “Baik, sekarang kita akan memilih pembimbing. Pembimbing kalian adalah senior kalian yaitu dari kelas 2 High School, tepatnya setahun lebih tua dari kalian. Mereka akan mengambil undian, kamar yang di dapat jika sama nomor kamarnya dengan nomor kalian, artinya dia lah yang menjadi room mate kalian. Mengerti?”

“Yes, miss!” ucap kami serempak.

“Baik, silahkan para calon pembimbing maju ke depan!” perintah miss Evelyn.

Satu persatu kakak kelas kami maju dan membacakan nomornya sekeras-kerasnya. Aku hanya diam, akhirnya hanya tersisa 4 orang pembibing yang juga artinya tersisa 4 orang yang belum mendapat pembimbing dan salah satunya adalah aku. Heechul sudah berpasangan dengan Hankyung. Salah satu pria sangat tampan maju. Kulitnya seputih susu, bibirnya begitu seksi, dadanya bidang, rambutnya terlihat berantakan dan berwarna kecoklatan. Tampan…

“Kamar 18!” serunya tegas dan dingin. Aku menatap tak percaya. Aku menatap Heechul.

“Astaga, kau sekamar dengan seorang pria!” bisik Heechul. Dia mengedipkan matanya.

“Jangan mulai menggodaku Kim Heechul!” seruku kesal. Dia hanya terkekeh kecil.

Akhirnya serangkaian acara berakhir. Kami langsung diajak makan malam dan diijinkan kembali ke kamar masing-masing. Aku kembali ke kamarku. Kulihat lemari, rak buku dan meja belajar yang disebelah kiri sudah terisi. Pasti barang-barang milik pria tadi itu. Aku merapikan barang-barang milikku di lemari, rak buku dan meja belajar diseberangnya. Setelah selesai, aku mengambil piyama dan handuk karena aku ingin mandi. Aku mengunci pintu kamar dan pintu kamar mandi. Saat sedang berendam, aku mendengar seseorang mencoba untuk membuka pintu tapi tentu tidak bisa dibuka karena sudah ku kunci.

“Choi Eunri! Buka pintunya!” teriaknya. Hei, darimana dia tau namaku? Masa bodo, dia pasti punya kunci kan. Tak lama aku mendengar suara kunci di putar dan pintu dibuka.

“Yeoja pabo, kenapa kau tidak membukakan pintu?” teriaknya.

“Aku sedang mandi, pabo!” balasku berteriak.

“Setidaknya beri tahu aku saat aku memanggilmu tadi!” balasnya.

“Bukannya kamar ini kedap suara, apa gunanya aku berteriak jika kau juga tidak akan mendengarnya di luar sana!” ya, skak, dia terdiam tidak bisa menjawabku. Aku dapat mendengar dia berdecak kesal.

Aku tak punya minat berendam lagi. Aku keluar dari bathtub dan mengelap tubuhku dengan handuk lalu memakai baju handuk yang tersedia di kamar mandi. Eh, dimana piyama, celana dalam dan braku? Aku pasti lupa membawanya. Sial, tidak mungkin aku minta tolong padanya? Kalau aku keluar hanya dengan baju handuk aku pasti akan dibilang menggodanya. Dengan segenap keberanianku, aku membuka pintu dan keluar. Aku dapat melihat dia sedang berbaring dan menutup matanya diatas kasur. Sial, pakaianku tepat berada di sebelahnya. Perlahan aku mendekat lalu mencoba mengambil pakaianku. Aku mengambilnya dan berhasil. Aku segera berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.

“Kau mencoba menggodaku, huh?” suara berat itu menghentikan langkahku dan membuat jantungku berdetak kencang.

“Tidak” jawabku masih dengan jantung yang terus berdetak kencang.

“Memakai baju mandi yang hampir menunjukan dada dan vaginamu dan itu kau bilang tidak menggoda?” ucapnya terlalu frontal ditelingaku. Aku hanya diam dan mematung. Aku mendengar kakinya mulai melangkah, mendekati diriku. Dia memelukku dari belakang. Kepalanya disusupkannya ke leherku. Deru nafasnya yang menyentuh leherku membuat aku merinding. Tangan kanannya menyentuh dadaku dan tangan kirinya menyentuh vaginaku. Kedua tangannya bergerak mengelus kedua titik sensitifku.

“Eung…” aku mendesah pelan.

“Sial, kau sudah basah!” bisiknya di telingaku. “Benar-benar siap untuk dimasuki” dia menggodaku.

“Ber… henti… menggoda… ku!” ucapku menahan desahan. Dia menjauhkan tubuhnya.

“Anggap saja ucapan selamat datang dariku!” ucapnya. Aku mencoba menstabilkan nafasku lalu berlari masuk kedalam kamar mandi.

“Jadi, nona Choi, apakah kau tahu maksud dari ‘pembimbing’ disini?” tanyanya menekankan kata pembimbing.

“Aku belum mengerti Kyuhyun-ssi” jawabku. “Apalagi mendengar penekananmu terhadap kata ‘pembimbing’.”

“Jadi, di SHS semua murid diajarkan menjadi Model, Aktris/Aktor dan Visual Grafik dan tentu ketiganya berhubungan dengan sex dan porno. Kami sebagai pembimbing mengajarkan pengalaman sex baik secara teori ataupun secara praktek. Aku sendiri lebih menyukai teori tapi praktek juga menyenangkan. Lagipula di tahun kedua, setiap murid akan diberi pilihan ingin ikut ke jalur yang mana. Aku sendiri lebih memilih jalur Aktor” jelas Kyuhyun panjang lebar. Dia menarik nafas panjang lalu melanjutkan omongannya. “Untuk kalian di tahun pertama, kalian harus mempelajari ketiga-tiganya. Untuk empat bulan pertama kalian akan diajar menjadi Model. Empat bulan kedua menjadi Aktris, untuk wanita dan Aktor untuk pria. Empat bulan terakhir untuk Visual Grafik.

Model disini tentu bukan model dengan balutan gaun panjang lalu berjalan diatas catwalk tetapi model disini adalah kalian akan memakai lingere atau bahkan hanya bra dan celana dalam di depan kamera. Di bulan model, tiga bulan pertama kalian akan diajari kemudian bulan terakhir kalian akan diuji. Setiap murid harus berpose tanpa pakaian bersama pembimbingnya baik pembimbingnya sesama perempuan, sesama laki-laki ataupun perempuan dan laki-laki.

Untuk bulan selanjutnya, bulan Aktris/Aktor, kalian akan diajak memerankan film porno. Pada bulan pengujian, kalian akan melakukan sex bersama pembimbing kalian didepan kamera dan kalian harus mengontrol diri agar tidak berteriak-teriak saat mendesah. Jika kalian sampai mendesah histeris, kalian dianggap gagal. Pada bulan Visual Grafik, kalian akan diajarkan mengenai desain. Pada bulan pengujian, kalian harus membuat dua tokoh yang melakukan lima gaya sex dalam bentuk animasi bergerak.” dia menutup penjelasan panjangnya.

“Jadi intinya…?” aku lanjut bertanya lagi.

“Kalian harus melakukan praktek bersama pembimbing kalian cepat atau lambat” jawabnya.

“Oh, kalau begitu aku memilih lambat” ucapku cuek seraya berjalan menuju rak buku. Mendadak dia menyudutkanku di tembok.

“Tapi aku memilih cepat!” bisiknya di telingaku kemudian menjilat telingaku. Aku menahan desahanku.

Tangannya memasuki piyamaku dan kemudian meremas dadaku yang tidak tertutup bra, memilin nipplenya, memberikan sensasi yang membuatku pusing. Aku menggigit bibirku menahan desahan. Mendadak dia mencium bibirku, menghisap bibir bawahku dan menyusupkan lidahnya kedalam mulutku.

“Ahh… Kyuhh…” desahku pelan dia semakin kuat menghisap bibirku hingga membuat bibirku memerah.

Perlahan bibirnya turun mendekati leherku. Menjilatnya dan mengecup ringan leherku. Tangannya melepas baju piyamaku, sekarang aku setengah naked. Bibirnya turun ke dadaku. Dia mengecup, menghisap dan menjilat seluruh permukaan dadaku baik kiri dan kanan kecuali nippleku. Dia tidak menyentuhnya sedikit pun.

“Kyuhhh… jangaaanhhh… memhhmm… perhhh… mainnhhh… kanhhhh… kuuhhh!” desahku. Dia mengabulkannya dan menghisap nippleku sekeras-kerasnya. “Ouuhhh… yaahhh… sheeeh… perhhh… tihhhh… ituhhhh…” desahku.

Tangannya memasuki celana piyama dan celana dalamku lalu mengusap isinya perlahan. Dia memasukan satu jarinya membuatku mengerang tertahan. Dia kemudian menambahkan dua jarinya lagi lalu mengocok milikku. Aku mendesah kenikmatan merasakan sensasinya. Aku tak tahu lagi entah sejak kapan dia melepaskan celanaku hingga aku full naked. Dia menekan-nekan kejantanannya kepada milikku membuat rasa nikmat yang tak terlukiskan oleh kata-kata. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang mendesakku. Aku sepertinya ingin mengeluarkan sesuatu. Jarinya berhenti dan kemudian dia menarik jarinya padahal aku akan segera orgasme.

“Wae?” tanyaku. Dia hanya tersenyum kecil. Dia berjongkok tepat di hadapan milikku. Dia mengangkat kaki kananku ke bahunya. Kurasakan benda lembut bergerak dalam milikku. “Ouchhh… inihhh… nikhhhh… mathhh… Kyuhhh…”

Lidahnya terus bergerak menyapu milikku yang kembali basah. Dia menghisap dan menggigit klirotisku. Nikmat… benar-benar nikmat…! Aku mengejang kenikmatan.

“Kyuhhh… akuuhhhh… kehh… luaarrhhhh!” desahku ketika pelepasan itu datang. Aku terengah-engah. Dia mensejajarkan tubuhnya dengan tubuhku. Dia mencium, menyesap bibir bawahku.

“Kau benar-benar nikmat. Aku jadi ingin menikmati tubuhmu. Sayangnya, besok hari pertama kita sementara sekarang sudah jam 11 malam. Aku tidak mau kita terlambat, sebaiknya kau tidur.” ucapnya lalu menggendongku ala bridal style keatas kasur kingsize itu lalu menutupi tubuhku dengan selimut.

“Tapi, pakaianku” ucapku padanya.

“Tidak perlu, aku yakin tubuhmu masih panas” ucapnya. Ya, itu benar, dia benar. “Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti!” aku menutup mataku perlahan.

Aku membuka mataku. Dapat kurasakan dua tangan yang memeluk posesif pinggang rampingku. Aku melirik jam yang berada diatas nakas. Baru jam 5. Aku berbalik, dia masih tidur. Aku mengusap rambutnya. Rambutnya berwarna coklat. Tubuhnya berbau maskulin, kulitnya seputih susu. Aku tak pernah memperhatikan tampannya wajah seorang Cho Kyuhyun. Sejujurnya, dia sangat tampan tapi dia juga sangat vulgar.

“Kyu, bangunlah! Padahal kau bilang akan membangunkanku kenapa sekarang aku yang harus membangunkanmu?” ucapku berusaha membangunkannya. Aku menepuk pipinya dan mengusap rambutnya.

“Aku masih mengantuk, changiya!” ucapnya. Dia menggeliat dan kepalanya masuk ke lekukan leherku.

“Bangun, Kyu, dan berhenti memanggilku ‘changiya’!” tegasku. Dia tak bersuara.
Aku menatapnya kesal. Aku berpikir keras lalu aku menunduk dan mencium pipinya berharap dia terbangun. “Bangun Cho Kyuhyun!” dia tetap tidak bergerak. Akhirnya, dengan segenap keberanian yang ku punya, aku mendekati bibir ranumnya, lalu mengecupnya perlahan.

“Morning kiss, huh?” tiba-tiba dia bersuara membuatku terkejut.

“Maybe” jawabku sambil tersenyum. “Bangunlah, tuan Cho!” perintahku.

“Kau cocok menjadi nyonya Cho dengan sikapmu yang suka memerintah itu” ucapnya. Aku menjitak kepalanya. “Appo, kau mau kuserang lagi huh?”

“Andwae!” teriakku kemudian berlari kedalam kamar mandi.

Aku berjalan gontai menuju ruang makan. Kyuhyun tidak menemaniku, dia pergi bersama beberapa temannya. Memang pria sialan, dia memberi banyak kissmark di dadaku. Untungnya seragam selain seragam khusus yang kemarin itu normal saja seperti seragam sekolah lainnya hanya berbeda sedikit tapi tidak apa-apa. Aku memakai kemeja putih tanpa lengan dengan lambang SHS, rok kotak-kotak 10 cm diatas lutut berwarna merah darah dan dasi kupu-kupu warna merah darah.

“Hei!” panggil seseorang kepadaku. Dari suaranya saja aku tahu kalau itu adalah Heechul. Dia langsung duduk di bangku disampingku.

“Hai, Heechul!” balasku menyapa dengan nada tak bersemangat.

“Kau kenapa huh?” tanya Heechul.

“Kau mau tahu saja!” ucapku sekenanya.

“Jangan cemberut begitu dong. Nanti aku cium nih!” ucap Heechul sambil mendekati wajahku. Dengan cepat kujitak kepalanya. “Appo!” dia menjerit kesakitan. Aku terkekeh.

“Apa yang kau lakukan dengan Hankyung semalam?” tanyaku. Muncul semburat merah di wajah Heechul.

“Aa… apa maksudmu?” tanyanya dengan sedikit terbata-bata.

“Kau menjadi yadong dalam semalam. Pasti terjadi sesuatu kan?” tebakku sambil menggodanya.

“Eh… ya, begitulah.” Heechul terlihat malu-malu. Aku tertawa kecil.

“Apa yang terjadi? Ayo ceritakan padaku!” desakku. Dia menatapku dengan wajah seperti kepiting rebus.
“Tadi malam dia melakukan foreplay kepadaku” ceritanya. “Tapi tidak sampai tahap inti!” dia terlihat panik seakan aku akan menuduhnya macam-macam. Sebenarnya aku memang mau menuduhnya sih. Aku tertawa terbahak-bahak. “Kau sendiri, ada yang terjadi padamu?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Tidak.” jawabku, tentu saja aku bohong. Kami hampir ke tahap inti kemarin. “Tidak ada.” jawabku dengan aktingku yang paling meyakinkan.

Post Terkait