cerita dewasa

Cerita Sex Tante Dinda

Di pagi yang indah ini matahari belum setinggi jendela kamarku, hari libur ini ingin ku berjalanjalan ke pasar kabupaten yang berjarak 1 mil dari desaku. Aku menuju kamar mandi dibagian belakang rumah kami, segar rasanya air jernih ini ketika menuruni setiap kulit tubuhku.

Mungkin 20 menitan aku menikmatinya dan sekarang kulilitkan handuk yang tak begitu besar untuk menutupi tubuhku, kulangkahkan kaki menuju kamar melewati ruang tengah yang saat itu kulihat Dinda anak kakakku yang dititipkan untuk bersekolah karena dianngap daerah kami lebih memiliki sarana yang mendukung untuk pendidikan.

Seperti pada umumnya anak usia 10 tahun ini akan menghabiskan hari liburnya dengan menonton tv atau memainkan game.

theth tibatiba tvnya mati, yeach serunya

kecewa lalu kulihat Dinda bangkit dan berkata kepadaku

Tante Dinda mau main keluar saja lah,
ehh nanti dulu tante periksa kenapa tv mati mungkin tegangannya nggak kuat karena tante sedang memanaskan setrika kuperiksa switch otomatis di samping pintu.

Karena letaknya yang tinggi membuatku menjinjit hingga bagian bawah tubuhku makin nampak yang tidak tertutup handuk. Kuperiksa juga sambungan kabel roll yang mungkin tercabut membuatku membungkuk tapi ternyata tak ada masalah, memang listrik padam dari pusat batinku. Dan di belakangku Dinda duduk diam memperhatikanku yang belagak sok pintar itu, lalu aku bilang pada Dinda akan mengajaknya ke pasar untuk membeli baju.

Pandangan mata Dinda terus mengikutiku hingga hilang di balik pintu kamar.

Ayo Lan kita kepasar tante sudah selesai ucapku saat Dinda rebahan di sofa karena menungguku.

Kami menuju halte bis umum setelah mengunci pintu dan pagar halaman. 15 menit kami menunggu bis yang akan mengantarkan kami ke pasar kabupaten, sesampainya di sana kami belanja keperluan dapur dulu dan setelah semua kebutuhanku terbeli kami naik ke lantai atas tempat pakaian.

Untuk menyenangkannya kuantar Dinda ketempat baju anak, kuperhatikan ia beberapa kali melilih baju dan ahirnya Dinda menemukan baju yang ia inginkan setelah itu kami naik satu lantai lagi ketempat baju wanita. Disana Dinda hanya membuntutiku melihatlihat baju, kerudung, yang tidak ada satupun membuat aku tertarik untuk mencoba hingga aku sampai toko yang hanya menyediakan pakaian dalam.

Kami masuk mungkin 10 menit aku memilihmilih model ataupun warnanya dan Dinda tetap mengikutiku

yang ini baru ibu, mungkin ibu ada yang tertarik? kata pemilik toko, kuperhatikan pakaianpakaian yang ditunjukkannya, kulihat Dinda juga memperhatikan tapi tetap saja aku tidak tertarik bukan karena modelnya tapi warnanya yang menurutku norak.

Sampai akhirnya kutemukan juga daleman yang menurutku cocok untuk dipakai warnanya yang kalem, bahan yang lembut, dan juga model yang serasi. Selesai belanja di lantai pakaian kami terus pulang, sampai dirumah Dinda langsung berlari menuju ruang tengah dan menyalakan tv,

kamu lupa ini sayang?? kataku sambil mengankat tas plastik ungu yang berisi pakaian, dan kuletakkan di sampingnya.

Sementara aku ke dapur menyimpan belanjaan dapur kami, aku kembali keruang tengah lagi dan kudapati tasnya sudah dibuka. Tangan Dinda menggenggam baju barunya

Coba dulu ya. kataku dan Dinda bangkit ke depanku, kubantu ia memakai pakaian barunya.
bagus ya tante katanya lalu Dinda kembali menonton tv, saat iklan ditayangkan keponakanku ini bertanya dengan polos
kok yang tante beli nggak dicoba? membuatku kaget karena tahu yang kubeli adalah pakaian dalam
Ya nggak boleh dicoba di sini sayang, harus coba di kamar, kan malu kalo kelihatan orang jelasku.
Orang siapa tante? yang dirumah kan cuman tante, memang siapa lagi katanya lugu.
Ini pakaian dalam, masa tante telanjang di sini,
tadi Dinda juga telanjang kenapa tante tidak? tanayanya lagi
Dinda ini masih anakanak dan kalo tante kan sudah dewasa jadi ya nggak boleh telanjang sembarangan jawabku.
tapi kemarin Dinda lihat tantee telanjang di kamar mandi.
Dinda nggak boleh cerita sama orang lain ya kalau pernah lihat tante telanjang waktu mandiin Dinda kemarin.. lalu Dinda berkata lagi
Ya sudah kita kekamar mandi lagi aja supaya tante bisa telanjang pintanya.
Sayang tante kan sudah mandi jawabku, namun kini kulihat raut mukanya yang kecewa karena permintaanya kutolak.

Kupikir kasihan juga keponakanku ini

Sayang ikut tante aja ke kamar kalau pingin lihat tante mencoba pakaian yang baru tante beli ini aku bergegas ke kamar dan keponakanku mengekor, setelah pintunya kututup aku berdiri disamping ranjang dan duduk di tepiannya, kuletakan tas yang berisi beberapa BH dan CD yang baru kubeli.

Keponakanku masih berdiri mematung dijarak 1 meteran, kuikatkan kedua ujung kerudungku ke leher lalu satu persatu kancing bajuku kulepas, dan kutanggalkan di ranjang.

Kini kuambil satu BH warna krem dari dalam tas dan kuletakkan di atas paha, kuturunkan talinya di lengan dan tangan kiriku ke belakang mencari pengaitnya sedang tengan kanan kugunakan untuk menutupi payudaraku. Klik pengaitnya terlepas selanjutnya tanganku menariknya dan meletakkannya di sampingku lalu kuambil BH yang baru kubeli, saat kukenakan mata keponakanku tak berkedip melihat payudaraku yang menggantung bebas, terlihat beberapa kali ia menelan ludah.

Selesai mengenakan BH dan baju kurapikan kerudungku kembali.Kami kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa untuk berbincangbincang. Selama berbincangbincang, keponakanku terus menatap bagian dadaku dari celah kancing bajuku yang tidak terpasang. Saat aku menyadari hal itu, aku tidak berusaha untuk menutupinya. Ada perasaan senang yang menjalari tubuhku.

Setelah beberapa lama, akhirnya aku berkata,

Dek, kenapa melihat dada tante terus ? keponakanku sedikit terkejut. Dia menoleh ke tempat lain sambil menjawab,
Nggak ada apaapa, kok..

Aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku sangat suka kalau dia melihatku seperti itu.

De, kalau kamu suka, kamu boleh melihatnya lagi kok, kataku.

Tanpa menunggu tanggapan dari keponakanku, aku melebarkan bagian dada bajuku dan mengeluarkan payudaraku dari cup BH sehingga kali ini kedua payudaraku dapat terlihat dengan jelas. Keponakanku yang mendapat pemandangan seperti itu segera saja melotot dan melahap kedua payudaraku dengan pandangan yang penuh minat. Aku yang melihatnya seperti itu tersenyum dan membiarkan keponakanku untuk menjelajahi payudaraku dengan pandangannya.

Akhirnya keponakanku menjadi tidak tahan. Dia bertanya kepadaku,

Tante, bolehkah Dinda memegangnya ? Aku mengangguk sambil tersenyum.

Tanpa membuang waktu lagi, keponakanku segera menggapai kedua payudaraku dengan tangannya dan mulai meremasremas serta mempermainkan putingnya. Kontan saja aku menjadi terangsang.

Kubaringkan tubuhku ke atas sofa dan kupejamkan mataku untuk menikmati sensasinya. Setelah agak lama, tanpa permisi lagi keponakanku mulai menciumi dan menjilati kedua payudaraku. Aku terus saja memejamkan mata dan menikmati setiap rangsangan di payudaraku. Tubuhku ikut memberikan reaksi terhadap rangsangan itu. Aku merasakan cairan kewanitaanku mulai mengalir dan membasahi vaginaku.

Setelah beberapa lama, tanganku mulai membuka pakaian keponakanku. Sambil terus menciumi dan menjilati kedua payudaraku, Dinda membantuku membuka bajunya sehingga dalam sekejap keponakanku berada dalam keadaan telanjang bulat. Penisnya terlihat berdiri tegak karena sudah pasti dia juga dalam keadaan terangsang.

Untuk sementara, dia melampiaskan nafsunya kepada kedua payudaraku. Aku tidak mau ketinggalan. Kujulurkan tanganku untuk menggapai penisnya. Setelah penisnya berada di dalam genggamanku, aku mulai memainkan penisnya pula.

Setelah beberapa saat lamanya, keponakanku melepaskan bibirnya dari payudaraku dan berkata,

Tante, kalau boleh aku juga ingin melihat memek tante Mendengar permintaannya ini aku segera berdiri dan mengangkat rok panjangku dengan tanganku sehingga sekali lagi aku memamerkan celana dalam putihku kepadanya.
Kamu buka sendiri celana dalam tante, kataku.

Keponakanku segera berjongkok di depanku dan dengan tangan yang agak gemetar meraih calana dalamku. Dengan perlahanlahan namun pasti, celana dalamku melorot turun dan sedikit demi sedikit
memperlihatkan vaginaku sampai akhirnya keseluruhan vaginaku tidak lagi ditutupi oleh celana dalam putihku.

Vaginaku terlihat sedikit basah oleh karena cairan kewanitaaanku. keponakanku membiarkan celana dalam putihku tersangkut di bagian lututku dan mulai meraba vaginaku.

Tante, ini indah sekali, katanya sambil membelai vaginaku dengan lembut.

Aku diam saja dan kembali merasakan rangsangan yang kali ini berpindah dari payudara ke vaginaku. Dengan jarinya, keponakanku menyodoknyodok liang vaginaku sehingga jarinya dibasahi oleh cairan kewanitaanku.

Setelah keponakanku menjilati jarijarinya itu sampai semua cairan kewanitaanku yang menempel di jarinya habis, dia kembali menyodoknyodokan jarinya di liang vaginaku lagi. Dia melakukan hal itu berkalikali . Kelihatannya dia sangat menikmati cairan

kewanitaanku. Sambil menusuknusuk liang vaginaku, jarijarinya yang lain memainkan klitorisku. Rangsangan yang aku rasakan menjadi semakin hebat. Di saat aku merasakan tubuhku

Post Terkait