cerita dewasa

Cerita Sex Gadis Metropolitan Part 2

Pagi itu permulaan bagi Rifal untuk menginjakkan kembali di bangku sekolah. Segenap perasaan malu dan bercampur haru memenuhi dadanya. Di waktu ayahnya menyuruh kembali ke bangku sekolah, Rifal sudah menolak dengan beribu alasan apapun. Namun ayahnya tetap berkeras hati agar Rifal meneruskan sekolahnya. Alasan terlambat bagi orang yang mengejar ilmu tidak mengenal usia dan keadaan, asalkan masih ada kemauan keras.

Begitu seluruh keluarga Irena maupun keluarganya sendiri banyak berpendapat yang sama, kekerasan hati Rifal dapat tercairkan.

Akhirnya Rifal menurut kehendak ayahnya untuk menyelesaikan bangku terakhir sekolah lanjutan atas. Tanpa membuang waktu lagi ayahnya langsung mendatangi kepala sekolah. Tidak ada kesulitan lagi bagi Rifal kembali ke bangku sekolah. Ternyata kepala sekolah menerima dengan senang hati kembalinya Rifal ke bangku sekolah. Langsung saja keesokan harinya setelah kedatangan ayahnya menemui kepala sekolah, Rifal sudah di perbolehkan mengikuti pelajaran. Banyak memory yang terjalin di gedung sekolahnya. Betapa sukar dibayangkan pertemuannya nanti dengan kawan-kawan lamanya. Ketika sudah nampak gedung sekolah, jantung Rifal berdetak tak teratur nafasnya secara tiba-tiba jadi sesak. Semua itu hanya karena kompensasi saja.
Di depan pintu gerbang sekolah Honda Civic itu berhenti. Rifal segera melangkah turun dari mobil Honda Civic meninggalkannya. Beberapa cowok-cewek yang sedang nongkrong di depan pintu gerbang sekolah jadi bengong melihat FAVORIT mereka nongol lagi.
“Halo!” sapa Rifal.
“Babe ya?” tanya salah satu murid dalam keadaan bengong. Serentak semua murid yang bergerombol itu mendekati Rifal setengah heran.
“Sudah lupa sama gue ya?” tanya Rifal berkerut dahi.
“Aaaah. . . enggak, Be!” kemudian mereka semua menyalami Rifal satu per satu. Suasana diantara mereka demikian semarak.
“Babe kemari mau apa, Be?” tanya salah satu di antara mereka.
“Masuk sekolah lagi.”
“Ape, Be? Kupingku mendadak jadi budek!” celetuk yang lain.
“Babe bohong!” sambung lainnya.
“Sungguh. . . aku mau jadi murid di sekolah ini lagi.”
“Aaaah!. . . yang bener be, Babe sedari dahulu paling pinter deh bikin hati orang senang.” Yang baru saja berkata adalah Eddy Ronggeng. Salah satu CS Rifal di masa lalu yang terkenal lucu setelah Cucung.
“Laaah. . . buat apa aku bawa tas dan berpakaian seragam seperti kalian semua?” kata Rifal meyakinkan mereka. Mendadak seluruh murid yang bergerombol di pintu gerbang bersorak gembira.
“Horeeee… babe jadi teman kita lagi!”
“Hidup babe kita!” Rifal berjalan masuk dengan diiringi semua teman yang tadinya nongkrong di pintu gerbang sekolah. Mereka bersorak-sorak seperti pawai yang sedang mengawal seorang raja penuh kemenangan. Seluruh murid perhatiannya berpusat kepada seorang lelaki berwajah tampan yang saat itu berjalan memasuki halaman sekolah. Dan secara serentak seluruh murid menyerbu ke arahnya, setelah mendengar nama lelaki FAVORIT mereka disebut secara ramai-ramai. Satu-satu mereka menyalami tangan Rifal dengan gembira. Sampai-sampai semua guru yang ada di dalam kantor keluar ingin tahu apa yang telah terjadi di luar. Begitu melihat murid-murid bersorak gembira lantaran kemunculan Rifal, semua guru menjadi geleng-geleng kepala. Akhirnya satu persatu guru-guru itu masuk kembali ke kantor.
Kelas Rifal menjadi sesak oleh murid-murid yang pada nimbrung ingin berjumpa dengan Rifal, di samping memperlihatkan rasa gembiranya. Rifal sampai kewalahan dan kecapaian menyalami satu per satu murid di sekolahnya. Karena saking capainya Rifal duduk diam di bangkunya. Murid-murid masih saja menyesaki kelas itu, malah ada sebagian banyak murid baru yang ingin melihat wajah Rifal yang sering dibicarakan oleh kalangan murid pengagumnya. Namun yang lebih berkesan di hati mereka tak lain mengenai kisah cinta mereka.
Barulah Rifal menghela nafas lega setelah mendengar suara bell sekolah berdentang-dentang. Seluruh murid-murid segera masuk ke dalam kelas masing-masing. Rifal mengambil tempat duduk sebangku dengan Eddy Ronggeng. Secara kebetulan pula Rifal dan Eddy Ronggeng satu kelas. Di waktu Rifal kelas tiga Eddy Ronggeng masih jadi adik kelasnya. Berhubung Rifal tidak mengikuti ujian tahun lalu dinyatakan gagaldan harus mengulang kembali.
Guru pasti memasuki kelas itu sembari menatap seluruh murid. Ketika langkahnya berhenti tertumbuk pada Rifal.
“Untuk hari ini kau sudah kembali menjadi murid sekolah ini Rifal. Harapan bapak pada tahun ini kau dapat menyelesaikan ujianmu dengan baik!” kata guru pasti dengan berwibawa.
“Terima kasih pak!” jawab Rifal
“Bagaimana kabar Irena?” Baik-baik bukan?”
“Begitulah harapan saya selalu baik-baik  pak.”
“Sudah punya anak?” Rifal mengangguk, seluruh murid-murid di kelas itu jadi tertawa riuh.
“Babe kita pengantin remaja pak. Jadi masih boleh meneruskan sekolah.” Nyelonong sahutan Eddy Ronggeng. Seluruh murid di kelas itu tertawa tambah seru. Rifal hanya tertunduk malu sambil senyum-senyum. Sialan Eddy Ronggeng bikin malu aja! Gerutu Rifal dalam hati.
Guru pasti memberi isyarat kepada semua murid agar kembali tenang.
Setelah seluruh murid tenang barulah guru pasti itu memberikan pelajaran. Jam pelajaran pertama dan kedua diisi oleh guru pasti. Semua murid sekolah itu paling takut sama guru pasti ini. Makanya setiap pelajaran ilmu pasti tidak ada satu pun di kelas itu yang berani bercuit.
Barulah semua murid di kelas itu merasa agak lega setelah pelajaran ilmu pasti selesai. Selanjutnya diisi oleh pelajaran bahasa Inggris. Kali ini yang mengajar ibu Sulis. Ibu guru yang berparas cantik namun baik hati. Kebanyakan murid-murid paling senang jika tiba pelajaran ini. Di samping suara ibu Sulis yang merdu, orangnya murah senyum dan cantik. Ibu Sulis baru satu tahun mengajar di sekolah ini menggantikan guru bahasa Inggris yang berkepala botak. Makanya begitu dia melangkah masuk dan meletakkan buku pelajaran di atas meja berkata :
“Siapa di antara kalian yang bernama Rifal?” Eddy Ronggeng segera menyodok tangan Rifal dengan sikutnya.
“Hush!… tuh ibu Sulis nanyain kamu, dia naksir rupanya.”
“Diam monyong!” sergah Rifal
“Cantiknya enggak ketulungan be.”
“Aku sudah punya istri.”
“Jangan takut deh. . . aku enggak bakal bilangin sama Irena.”
“Apa-apaan sih kau ini Ed?” Melihat wajah Rifal, serius Eddy jadi bungkam sembari nyengir.
“Coba angkat tangan, siapa yang bernama Rifal?” ulang ibu Sulis lagi, Rifal segera mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi persis sedang ditodong oleh perampok.
“Oooo. . . kamu,” suara ibu Sulis merdu.
“Kenapa harus mengangkat kedua tangan.”
Geeerrr. . . seluruh murid-murid tertawa, ibu Sulis tersenyum lebar.
“Cukup angkat satu tangan saja!” kata ibu Sulis menahan tawa.
“Tempatnya angkat jari bu?” sergah Rifal. Ibu Sulis mengangguk.
“Ibu mendengar ceritamu persis Romeo dan Juliet,” ucapan ibu Sulis membuat Rifal tertunduk.
“Memang mengasyikkan dan syahdu kedengarannya bu. Tapi saya rasa masih kalah hebatnya jika dibandingkan dengan cerita Eddy Ronggeng dan Martini!” celetuk Gombloh yang terkenal di kelas itu sebagai Darto Helm sebab kepalanya botak di bagian depan. Eddy Ronggeng menoleh ke arah Gombloh.
“Ibu boleh tahu?” tanya ibu Sulis kepada Gombloh.
“Kalau Rifal dengan Irena seperti Romeo dan Juliet, tapi Eddy dan Martini persis Rongsokan dan Rombengan!” Meledak lagi tawa murid-murid di kelas itu. Martini yang berbadan gemuk bomber melengos kesal sembari mengumpat, sialan! Sedangkan Eddy Ronggeng bangkit dari tempat duduk sambil berkata :
“Masih di bangku SMA saja sudah botak tuh kepala persis lapangan sepak bola. Kalau jadi profesor kepalamu seperti apa. . .? Malah-malah bisa enggak punya kepala tuh!” Geerrr. . . lagi suara tawa murid-murid. Ibu Sulis ikut tertawa, hanya saja mulut ibu Sulis ditutup pakai sapu tangan. Dengan menahan tawa, ibu Sulis mengisyaratkan untuk kembali tenang kepada semua murid. Tawa murid-murid telah reda dan tak lama suasana kembali tenang.
“Sudah?” tanya ibu Sulis kepada semua murid. Tiada jawaban dari murid-murid, berarti mereka semua telah siap mengikuti pelajaran. Ibu Sulis segera mengambil kapur sambil berkata :
“Sekarang ikutlah pelajaran!” sambung ibu Sulis. Semua murid mematuhi perintah ibu guru. Eddy Ronggeng sering kali menyodok tangan Rifal dengan sikutnya jika ibu Sulis memandang Rifal.
“Apaan sih?” sergah Rifal kesal.
“Kau sering dipandang ibu Sulis.”
“Biarin!”
“Dia naksir sama babe.”
“Biarin.”
“Kalau aku langsung tiada ampun.”
“Dimana otakmu? Dia kan guru kita.”
“Otakku ada di dengkul be.”
“Pantesan bego!”
Eddy Ronggeng nyengir kuda.
“Eddy!” panggil ibu Sulis.
Eddy Ronggeng jadi grogy.
“Jangan ngobrol terus,” sambung ibu Sulis.
“Ini bu, Rifal bilang pantatnya bisulan sulit untuk duduk.”
Murid-murid jadi tertawa riuh. Semula ruang kelas tenang menjadi kacau.
“Betulkah kata Eddy, Rifal?” tanya ibu Sulis lembut kepada Rifal.
“Tidak bu. Malah Eddy bilang ibu Sulis itu cantiknya selangit. Mau enggak ya? . . . diajak nonton lenong.” Eddy Ronggeng berubah jadi pucat mukanya ketika mendengar ucapan Rifal.
Ibu sulis jadi melotot matanya menatap Eddy Ronggeng. Sementara murid-murid yang tengah tertawa berusaha menahan agar tidak terlalu ramai lantaran mata ibu Sulis yang indah itu melotot.
“Eddy kemari!” panggil ibu Sulis galak.
Eddy Ronggeng bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah ibu Sulis.
“Berdiri di depan papan tulis!” bentak ibu Sulis. Wajah Eddy Ronggeng berubah memelas.
“Kenapa ibu guru galak sekali hari ini? Kasihanilah saya, sungguh berani mati saya tidak akan mengulanginya lagi bu. Ampunilah kesalahan saya bu. Ibu kan baik hati.” Rengek Eddy Ronggeng memelas.

Post Terkait