cerita dewasa

Cerita Dewasa Pembantu yang Genit

Di kompleks perumahan ibuku, Ani terkenal sebagai pembantu yang genit, ganjen, centil dan sebagainya. Dia sering gonta ganti pacar. Ani baru berumur kurang lebih 22 tahun. Bodynya bagus, dengan payudara berukuran kirakira 34B dan pantat bulat dan padat.

Yang lebih menggairahkan adalah cara berpakaiannya. Dia kerap mengenakan kaos ketat dan celana model ABG sekarang yang memperlihatkan pinggul dan pusar. Wajahnya cukup manis, bibirnya sensual sekali. Aku sering menelan ludah kalau melihat bibirnya.

Tugas Ani adalah menjaga anak majikannya yang masih kecilkecil. Kalau sore hari, dia selalu mengajak anak majikannya berjalanjalan sambil disuapi. Nah, aku sering sekali berpapasan dengannya saat dia sedang mengasuh Nabila (anak bungsu pasangan tempat Ani bekerja). Nabila ini seorang anak yang lucu, sehingga kadangkadang aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya.

Suatu kali, seperti biasa aku bertemu dengan Ani yang sedang mengasuh Nabila, dan aku berhenti sebentar untuk mencubit pipinya. Tibatiba Ani nyeletuk, Kok cuma Nabila yang dicubit Pak?
Aku sedikit terkesiap, Haah? dan aku memandang kepada Ani.

Dia sedang menatapku dengan kerlingan genit dan tersenyum menggoda.

Habis, kalau aku cubit pipi Mbak Ani, aku takut Mbak Ani marah, kataku.
Kalau cubitnya pelanpelan, aku nggak marah kok Pak. Malah seneng, sahut Ani.

Kurang ajar anak ini, aku membatin, tapi mulai tergoda untuk memancingnya lebih jauh.

Kalau cuma cubit aku enggak mau Ani. kataku.
Terus maunya apa? Emang berani? dia malah menantang. Benarbenar ganjen anak ini.
Aku maunya, cium bibir kamu yang seksi itu, boleh? aku bertanya.
Dia malah balik bertanya, Cuma cium? Enggak mau kalau cuma cium.

Astaga, ini sudah keterlaluan.

Ani, aku kan sudah punya isteri, emang kamu masih mau? aku bertanya.
Yaa, jangan sampai isteri Pak Anton tahu dong. Masak cuma Mbak Yanti aja yang boleh ngerasain Pak Irwan. balas Ani.

Aku agak kaget juga mendengar ucapan Ani. Rupanya Yanti curhat sama Ani. Tapi, kepalang tanggung pikirku.

Jadi benar nih kamu mau Ani? aku memastikan.
Ani menjawab, Siapa takut? Kapan?
Kamu bisanya kapan Ani? Aku sih kapan aja bisa, jawabku sambil melirik ke toketnya yang bagus itu.

Saat itu Ani pake kaos ketat yang tipis, sehingga bra hitamnya membayang dan memperlihatkan lekuk yang sangat mengairahkan. Pembaca, terus terang saat itu aku sudah Konak. Penisku kurasakan sudah mengeras.

Ya sudah, nanti malam aja Pak, kebetulan BapakIbu mau ke Bogor, anakanak mau diajak semua. kata Ani.
Oke, nanti jam berapa aku ke rumahmu? tanyaku.
Yaa, jam delapanan deh, jawab Ani sambil membusungkan dadanya.

Dia tahu aku sedang memperhatikan toketnya. Nafsuku menggelegak.

Kamu nantang benar sih Ani, ya sudah, nanti jam delapan aku dateng. Awas nanti kamu ya. ancamku sambil tersenyum.
Eh, dia malah menjawab, Asal Pak Anton kuat aja nanti malam.

Sambil mengedipkan matanya dan bibirnya membuat gerakan mengecup. Ya ampuunn, bibirnya benarbenar seksi. Aku menyabarkan diri untuk tidak menggigit bibir yang menggemaskan itu.

Kalau gitu aku pulang dulu ya Ani, sampai nanti malam ya. kataku.
Benar yaa. Jangan boong lho. Ani tunggu ya sayang.. Ani membalas.

Malamnya, jam delapan, aku sudah berada di depan pagar rumah Ani, lebih tepat rumah majikannya. Ani sudah menungguku. Dia membukakan pintu pagar dan aku langsung masuk setelah melihat situasi aman, tidak ada yang melihat. Kami masuk ke dalam dan Ani langsung mengunci pintu depan.

Ani memakai celana yang sangat pendek, dengan kaos ketat. Kulitnya cukup mulus walaupun tidak terlalu putih, namun dibandingkan dengan Enny, masih lebih putih Ani. Aku tidak mau membuang waktu, langsung kudekap dia dan kuserbu bibirnya yang memang sudah lama sekali aku incar. Bibir kami berpagutan, lidah kami saling membelit, dipadu dengan nafas kami yang memburu.

Tibatiba Ani melepaskan ciuman kami, dan dia memegang kedua pipiku sambil menatapku, lalu berkata manja.

Pak Irwan, kalau Pak Anton mau ngewe sama Ani, ada syaratnya Pak.
Aku bingung juga, Apa syaratnya Ani? tanyaku.
Pak Anton harus panggil aku Mbak, terus aku panggil Pak Anton Yayang. Gimana? Mau nggak? tanya Ani sambil tangannya turun ke dadaku dan dia meremas dadaku dengan gemas.

Pembaca, ini yang mengherankan, aku seorang yang sudah berusia di atas 40 tahun, punya isteri dan anak, jabatanku cukup tinggi di kantor, dan seorang pembantu rumah tangga yang berumur baru 22 tahun mencoba untuk menguasaiku, dan aku merasa senang.

Aku mengangguk sambil menjawab, Iya Mbak, aku mau.
Sementara itu, penisku sudah ereksi dengan maksimal.

Sekarang, Yayang harus nurut apa yang Mbak bilang ya. perintah Ani, maksudku Mbak Ani.
Iya Mbak. jawabku pasrah.

Lalu Mbak Ani menuntunku ke kamarnya di bagian belakang rumah. Kami masuk ke kamar itu, Mbak Ani menutup pintu dan sekarang dia yang memeluk dan menyerbu bibirku. Kembali kami berpagutan sambil berdiri, lidah saling belit dalam gelora nafsu kami.

Mbak Ani kembali melepaskan ciuman kami, dan berkata, Yaang, kamu jongkok dong.

Aku menurut, aku berjongkok di depan Mbak Ani.
Lepasin celana Mbak Yang, pelanpelan ya Yaang.
Iya Mbak. cuma itu kata yang bisa aku keluarkan.

Lalu akupun mulai menurunkan celana pendeknya yang tinggal ditarik saja kebawah karena dia memakai celana olahraga. Perlahan mulai tampak pemandangan indah di depan mataku persis. Pembaca, memeknya gundul tanpa bulu sedikitpun, dan montok sekali bentuknya. Warnanya kemerahan dan diatasnya terlihat clitnya yang juga montok. Mbak Ani melibarkan pahanya sedikit, sehingga memeknya agak terkuak. Mbak Ani mendongakkan wajahku dengan tangannya.

Dan dia bertanya, Gimana Yang? Bagus nggak Memek Mbak?
Iya Mbak. Bagus banget. Tembem. jawabku tersendat, karena menahan nafsu dalam diriku.
Yayang mau cium Memek Mbak? tanyanya.
Mau Mbak.

Aku tidak menunggu diperintah dua kali. Langsung kuserbu Memek yang sangat indah itu. Mbak Ani menaikkan sebelah kakinya ke atas tempat tidur, sehingga lebih terbuka ruang bagiku untuk mencium keharuman memeknya.

Mulamula hidungku menyentuh kelembaban memeknya, dan aku menghirup keharuman yang memabokkan dari Memek Mbak Ani. Kususupkan hidungku dalam jepitan daging kenikmatan Memek Mbak Ani.

Mbak Ani mengerang, Aahh, Yayaanngg. Terusin Yang.

Lalu kukecup memeknya dengan penuh kelembutan. Dan perlahan mulai keluarkan lidahku untuk menjelajahi bibir memeknya. Kugerakkan lidahku perlahanlahan kesekeliling memeknya. Tanganku meremasremas pantatnya. Sesekali lidahku menyapu klitnya, dan kujepit klitnya dengan kedua bibirku.

Tubuh Mbak Ani mengejang sambil mendesah, Aarrgghh.. Yayaanngg.. Ennaakk Yaanngg..

Kedua tangan Mbak Ani meremas rambutku sambil menekan kepalaku ke belahan pahanya. Wajahku terbenam di Memek Mbak Ani, aku hampir tidak bisa bernafas.

Yaanngg.. Tunggu Yaang. Mbak nggak kuat berdiri Yang.

Lalu Mbak Ani merebahkan tubuhnya di kasur sambil melepaskan kaos dan branya. Dia terlentang di kasur. Aku berdiri dan ingin mulai melepas baju dan celanaku.

Jangan Yang, kamu jangan buka baju dulu. Jilatin Memek Mbak dulu Yang. perintah Mbak Ani. Lagilagi aku nurut.

Lalu Mbak Ani kembali menekan kepalaku ke selangkangannya. Kuteruskan kegiatan mulut dan lidahku di pesona kewanitaan Mbak Ani yang sangat indah kurasa. Kumasukkan lidahku ke dalam memeknya, dan kuputarputar di dalam memeknya.

Dia menggelinjang kenikmatan. Rambutku sudah berantakan karena diremas terus oleh Mbak Ani. Sekitar sepuluh menit kujilati Memek Mbak Ani dan memberinya kenikmatan sorgawi. Akhirnya dia menjerit tertahan, tubuhnya mengejang dan tangannya menekan kepalaku dengan kuatnya.

Aauugghh.. Yaanngg. Mbakk.. Kkeeluaarr Yaanngg rintihnya.

Pantat dan pingulnya bergerak memutar dengan liar dan tibatiba berhenti.

Sshh.. Oogghh.. Yaanngg.. Ennaakk banggeett Yaangg.

Kusedot seluruh cairan yang membanjir dari Memek Mbak Ani. Rasanya gurih dan wanginya harum sekali. Kurasakan becek sekali Memek Mbak Ani saat itu. Setelah berisitirahat kurang lebih sepuluh menit, Mbak Ani bangun dan mulai membuka pakaianku.

Sekarang giliran kamu Yang. Mbak mau gigitin kamu perintahnya.

Setelah semua pakaianku lepas, Mbak Ani memandang ke penisku yang sudah pusing dari tadi. Dia menggenggam penisku dengan gemas dan mulai mengocoknya dengan lembut. Kemudian aku disuruhnya telentang, lalu dia mendekatkan kepalanya ke penisku. Dikecupinya kepala penisku, dan lidahnya mulai menjelajahi bagian atas penisku.

Astaga, permainan lidah Mbak Ani luar biasa sekali. Dalam sekejap aku dibuatnya melayang ke angkasa. Kenikmatan yang diberikan melalui lidah dan mulutnya, membuatku mendesah dan menggelepar tidak karuan. Dari bagian kepala, lalu ke batang penisku dan bijiku semua dijilatinya dengan penuh nafsu.

Sesekali bijiku dimasukkan ke dalam mulutnya. Sampai terbalik mataku merasakan nikmatnya. Ujung lidahnya juga menyapu bahkan menusuk anusku. Kurasakan listrik yang menyengat ke sekujur tubuhku saat lidah Mbak Ani bermain di anusku. Sepuluh menit lamanya Mbak Ani menjilati dan mengemut penis dan anusku.

Kemudian dia merayap naik ke badanku, mengangkangiku, dan mengarahkan penisku ke memeknya. Perlahan dia menurunkan pantatnya. Kurasakan penisku mulai melakukan penetrasi ke dalam belahan memeknya yang sangat montok itu. Agak susah pada awalnya karena memang tembem sekali Memek Mbak Ani. Setelah masuk semua, Mbak Ani mulai menaik turunkan pantatnya.

Aauugghh, Mbak. Enak Mbak. rintihku.
Iya Yang, Mbak juga ngerasain enak. Adduuhh. Kontol kamu enak banget Yang.

Dan Mbak Ani mulai melakukan putaran pinggulnya. Pantatnya tidak lagi turun naik, melainkan pinggulnya yang berputar. Ini benarbenar membuat sensasi yang luar biasa nikmatnya. Mbak Ani sangat pintar memutar pinggulnya. Aku mengimbangi gerakan Mbak Ani dengan menusuknusukan penisku.

Tapi, Yaanngg. Kamu diem aja ya Yaangg. Biar Mbak aja yang muter.

Akupun diam dan Mbak Ani semakin liar memutar pinggulnya. Tidak lama kemudian, Mbak Ani menghentikan putaran pinggulnya, dan kurasakan memeknya menyedot penisku. Serasa dipilin oleh gumpalan daging yang hangat, kenyal dan kesat.

Lalu Mbak Ani mengerang keras, Yaanngg.. Aarrgghh. Mbak keluar laggii Yaanngg..

Mbak Ani rebah di atas tubuhku, sementara memeknya terus menyedot penisku. Luar biasa sekali rasanya memek Mbak Ani ini. Kemudian Mbak Ani memberi perintah agar aku bergantian di atas. Aku menurut, dan tanpa melepaskan penisku dari dalam memeknya kami berubah posisi.

Sekarang aku berada di atas. Mbak Ani melingkarkan kakinya ke kakiku, sehingga aku tidak leluasa bergerak. Rupanya ini yang diinginkan oleh Mbak Ani, agar aku diam saja. Mbak Ani juga tidak menggerakkan pinggulnya, hanya kurasakan daging di dalam memeknya yang melakukan gerakan menyedot, memijit, memutar dan entah gerakan apa namanya.

Yang pasti aku merasakan jepitan Memek yang sangat kuat namun enak sekali. Aku tidak dapat menggerakkan penisku di dalam memeknya. Juga tidak dapat menarik penisku dari dalam Memek itu. Tidak lama kurasakan Memek Mbak Ani menyedot penisku. Lalu perlahan Mbak Ani mulai memutar pinggulnya.

Aku merasa sperti perahu yang berada di dalam lautan yang bergelora karena ada badai yang dahsyat. Dan semakin lama gelombang itu semakin kuat menggoncang perahu. Nafas kami sudah memburu, keringat sudah mengucur membasahi tubuh kami.

Dan kurasakan Memek Mbak Ani mulai berdenyut keras lagi, bersamaan dengan aku mulai merasakan desakan lahar dalam diriku yang menuntut untuk keluar dari tubuhku. Putaran pinggul Mbak Ani semakin menggila, dan akupun membantu dengan menekannekankan pinggulku walaupun tidak terlalu bebas.

Oogghh.. Yaanngg.. Mbaakk nnggaakk kkuatt laaggi Yaanngg.. erang Mbak Ani.
Aku juga sudah tidak bisa menahan lagi desakan dari dalam itu, Iyaa mbaakk.. Aakkuu juggaa.. Aarrgghh.

Aku tidak dapat meneruskan katakataku, karena saat itu muncratlah sudah cairan kenikmatanku di dalam memek Mbak Ani. Bersamaan dengan itu, Mbak Ani juga sudah mengejang sambil memelukku dengan kuatnya.

Sshh.. Oouugghh.. Enaak baannggett Yaangg.

Kami merasakan nikmat yang tiada duanya saat air mani kami bercampur menjadi satu di dalam memek Mbak Ani. Mbak Ani mencium bibirku, akupun membalasnya dengan penuh gairah. Dan.. Kamipun terkulai tak berdaya. Aku terhempas di atas tubuh Mbak Ani. Nafas kami tinggal satusatu. Seprai dan kasur Mbak Ani sudah basah sama sekali karena keringat dan air mani kami yang meluap keluar dari Memek Mbak Ani saking banyaknya.

Yayaanngg.. Mbak Ani memanggilku dengan mesranya.
Iya mbaakk. aku menjawab dengan tidak kalah mesranya.
Kamu hebat deh Yaang. kata Mbak Ani sambil mengecup bibirku dengan lembut.
Mbak juga hebat. Memek Mbak enak banget deh Mbak. kataku.
Mbak Ani tersenyum, Yayang suka sama memek Mbak? tanyanya.
Suka banget Mbak. Memek Mbak bisa nyedot gitu. Nanti boleh lagi ya Mbak? aku merayunya.
Pasti boleh Yang. Memek ini emang untuk Yayang kok. Kata Mbak Ani.

Dan malam itu, kami melakukannya sebanyak tiga kali, sampai kudengar adzan subuh dari mesjid terdekat. Lalu aku keluar dari rumah itu setelah melihat bahwa situasi aman, dan pulang ke rumahku.

Post Terkait