cerita dewasa

Akibat Pijatan Nikmat

Ini adalah kisah antara aku dengan Om Haryy (pamanku yang berusia 10 tahun lebih tua dariku dan masih menumpang di rumahku), ketika usiaku 16 tahun. Sedikit latar belakang yang mendasari peristiwa ini dapat anda baca di cerita dengan judul Akibat Pijatan NikmatKetika itu rumah memang sedang sepi, hanya Om Haryy dan aku saja yang ada di rumah. Kedua orang tuaku sedang berlibur ke Bali dan kakakkakakku yang sudah berkeluarga sudah pindah ke lain kota. PembantuPembantu pun tidak ada karena memang saat itu hari lebaran.

Sambil malasmalasan, aku menonton televisi sendirian karena Om Haryy juga belum pulang malam itu, jadi sekalian saja menunggu Om Haryy (yang katanya akan membawa temannya malam itu). Sebetulnya aku agak kesal dengan berita itu karena aku berharap Om Haryy dapat melakukan kegiatan rutin kami yang biasa kami lakukan sejak aku berumur 16 tahun.

Bunyi bel di pintu memecah konsentrasiku pada acara televisi, dan aku pun sudah menebak bahwa itu pasti Om Haryy beserta temannya yang ada di luar pintu.

Malam, Om
Malam Anna, ini kenalkan teman Om Tomi

Teman Om Haryy ternyata adalah seorang keturunan PakistanCina dengan tampang yang notabene diatas ratarata. Tubuhnya tegap, dadanya bidang dan perawakannya yang lumayan tinggi telah mendapatkan simpatiku.

Anna, Tomi ini jago pijat lho
Anna kagak capek kok Om, jadi kagak usah dipijat sahutku sambil memasang tampang kesal di depan kedua orang itu.
Anna,
kamu jangan gitu dong sama teman Om. Dia sengaja Om undang malam ini
untuk memijatmu karena Tomi bukan pemijat biasa, dia ahli kecantikan

Setelah mendengar katakata kecantikan yang ternyata cukup ampuh untuk mengubah
pikiranku, aku pun setuju untuk dipijat oleh Tomi.

Tomi, kamu mandi dulu deh setelah itu giliranku

Dan selama Tomi mandi, Om Haryy menerangkan kepadaku bahwa Tomi adalah seorang pemijat professional yang dapat mempercantik pasienpasien nya, dan kepiawaiannya telah banyak terbukti.

Ok deh, Om. Anna mau dipijat oleh Tomi dengan syarat nanti malam Om mau melakukan kegiatan rutin kita
Iya, Anna, Om janji

Setelah selesai mandi, Tomi hanya mengenakan celana training sambil bertelanjang dada.

Tomi, kamu mulai saja pijatnya. Aku mandi dulu, kata Om Haryy.

Dengan
tampang masih kesal aku pun menuju ke kamar Om Haryy yang ternyata
telah secara diamdiam dipersiapkan untuk pijat malam ini. Kamar itu
telah dilengkapi dengan lilinlilin yang ditata rapi berjajar diseluruh
dinding ruangan; tidak lupa juga minyak tradisional untuk keperluan
pijat.

Lumayan juga selera Om Haryy, begitu pikirku. Kami pun masuk dan membiarkan pintu sedikit terbuka karena memang tidak ada orang lain lagi di rumah itu yang akan menganggu kegiatan kami. Tomi merengkuh pinggangku sambil menuntunku ke tempat tidur Om Haryy yang cukup lebar.

Anna, saya hanyalah seorang pemijat, dan kalau kamu tidak keberatan, saya akan pijat kamu dalam keadaan bugil

Tomi pun meninggalkan aku memberi aku waktu untuk bersiapbersiap sementara dia menunggu di luar kamar Om Haryy. Dengan perasaan heran tapi demi memenuhi janji Om Haryy dan membayangkan bahwa aku akan mendapat kepuasan dari Om Haryy malam ini, aku pun cuek saja dan langsung melepaskan semua pakaianku dan mengambil handuk untuk menutupi bagian pinggulku ketika berbaring tengkurap.

Karena menunggu Tomi terlalu lama, aku pun tertidur (karena suasana ruangan yang gelap temaram itu juga mendukung kantukku).

SetelahTomi memijatku beberapa lama, tenyata tanpa kusadari Om Haryy yang setelah selesai mandi hanya mengenakan kimono saja, duduk di kursi sambil melihat Tomi yang sedang memijatku. Ketika aku terbangun, kurasakan lembutnya tangan Tomi memijatmemijat kepalaku dan memang kuakui pijatannya professional sekali. Minyak yang digunakannya juga terasa segar di tubuh dan berbau enak.

Tomi mengatur posisi tubuhku yang tengkurap sehingga kedua tanganku direntangkan ke arah samping. Setelah memijat kepalaku, Tomi pun memijat leherku dan beranjak ke tanganku yang dimulai dari ujungujung jari. Kemudian tak beberapa lama, konsentrasinya beralih ke bagian samping tubuhku yang memang menantang karena tanganku terentang ke samping. PertamaPertama dituangkan nya minyak ke bagian samping bahuku sehingga cairan yang dingin menuruni susuku menuju kea rah putingnya memang membuatku tersentak. Karena licinnya minyak itu, kadangkadang tangannya mengena pentilku, dan itu membuatku semakin terangsang.

Setelah selesai dengan pungguku, Tomi pun beralih ke ujungujung jari kakiku, dan pelanpelan naik ke pahaku. Ketika disingkapkannya handuk yang menutupi bagian pinggulku, aku pun mengalami rangsangan yang terasa sangat erotis, mungkin karena dengan begitu aku bisa memamerkan memekku ke orang yang baru kukenal. Pijitannya di pahaku dilakukannya tanpa menyentuh memekku yang sudah mulai basah itu, dan itu membuatku sedikit kecewa.

Tetapi hal yang tak kusangkakusangka terjadi ketika dia mulai sedikit demi sedikit menuangkan minyak ke belahan pantatku, otomatis aku menggelinjang dan meregangkan selangkanganku. Sebelum aku sempat untuk berpikir lebih jauh, Kedua tangannya yang bertumpuk satu sama lain telah mencakup semua memekku dan memijatmemijat nya. Kedua tangannya masuk lebih dalam untuk memijat perutku sehingga otomatis pergelangan tangannya yang memang penuh minyak itu mengurutmengurut memekku dan kelentitku. Perasaan yang kurasakan luar biasa karena gerakan itu sekaligus membuat pusarku geli dan memekku seperti diusapdiusap.

Pelan namun pasti, Tomi membalikkan badanku, dan langsung saja tangannya menuju ke payudaraku dengan pentilpentil nya yang sudah mencuat tanda aku memang sudah terangsang hebat. Gerakan tangannya yang berputarberputar itu ternyata tidak menyentuh pentilku sama sekali, dan itu membuatku semakin memajukan dadaku ke arahnya berharap agar Tomi segera menyentil puncaknya yang sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk disentuh. Tomi pun tersenyum karena aku yakin bahwa dia pun tahu kalau aku ingin pentilku disentuhnya. Tak lama kemudian, harapanku menjadi kenyataan, tetapi bukan dengan jarijari nya, Tomi meletakkan telapak tangannya yang sudah licin itu tepat diatas kedua pentilku.

Dengan gerakan memutarmemutar, Tomi memijit pentilku, semakin lama gerakannya semakin cepat dan semakin menekan susuku. Dengan berakhirnya gerakan itu pula aku melepaskan eranganku yang pertama tanda aku mencapai orgasmku yang pertama. Bukannya menghentikannya, Tomi malahan menyentilmenyentil pentilku dengan ujungujung jarinya, dan setelah pentilku menjadi keras kembali, Tomi memasang alat perangsang berbentuk lingkaran di kedua pentilku. Ternyata alat itu dapat membuatku terangsang terusmenerus terlebih ketika aku bergerakbergerak, terasa alat yang seperti cincin itu memberikan kegelian yang sangat di ujung pentilku sehingga kedua puncak itu tetap mencuat keras.

Pelan namun pasti, pijatannya beralih kea rah perutku dan Tomi mulai menjilatmenjilat pusarku yang ternyata amat merangsang birahiku. Kembali kurasakan cairan hangat mengalir melalui memekku yang pasti telah berkilat berkilat karena banyaknya lendir yang keluar. Lama kelamaan, pijatannya turun ke bagian dibawah pusar dengan gerakan memutar, dan gerakan itu menambah banyaknya cairan yang keluar sampai akhirnya aku mencapai orgasme yang kedua. Betapa hebatnya pijatanpijatan Tomi ini yang ternyata tanpa disetubuhi pun aku bisa mendapatkan orgasme sampe dua kali.

Ketika aku belum reda dengan orgasmeku yang kedua kalinya, Tomi membuka selangkanganku lebarlebar dan merekahkan kedua bibir memekku dengan tangan kirinya. Kemudian dengan telapak tangan kanannya (ke empat jarijarinya), dia mulai menepukmenepuk pussyku yang terpampang lebar di depannya. GerakanGerakan itu bermula dengan pelan, dan setiap kali tamparan nya mengenai bibirku yang sudah basah itu, aku tersentaktersentak antara rasa kaget dan erotis.

Akhirnya, pukulanpukulan kecil itu bertambah keras dan cepat seiring dengan aku mendapatkan sensasi yang luar biasa di rondeku yang ketiga. Aku orgasme hebat diselingi eranganerangan ketika tamparannya mengenai memekku dengan cairan kentalnya yang mengalir deras sampai ke bongkahan pantatku.

Kemudian Tomi memasangkan suatu alat yang aneh sekali di pinggangku, berupa sabuk dengan penis buatan yang berukuran sedang dengan permukaannya yang dipenuhi tonjolantonjolan yang tidak sama besarnya maupun tingginya. Keseluruhan alat itu berbentuk seperti ikat pinggang dengan celana dalam yang dilengkapi dengan penis mencuat kea rah dalam. Setelah agak reda, Tomi memberiku segelas air putih sambil menunggu sampai aku agak tenang kembali, dan pelanpelan memasukkan penis itu ke dalam lubang memekku dan memasangkan strapstrapnya ke pinggangku. Tomi juga mengganjal pinggangku dengan tumpukan bantal sehingga penis itu yang telah dilumuri lubricant, dapat dengan mudah masuk ke lubang memekku.

Alat yang aneh itu ternyata memiliki remote control yang tidak terhubung dengan kabel sehingga tidak merepotkan pemakainya. Setelah dirasanya cukup siap, Tomi melebarkan kakiku dengan memekku yang telah tertancap penis palsu itu. Kemudian, dia menekan tombol di remote control yang ternyata menyebabkan alat itu bergerak memutar pelanpelan seakanseakan menggaruk rahimku. Dan oleh gerakan itu, maka seluruh dinding rahimku kegelian.

Argh, argh, hmph hmph..
Enak kan, Anna?
Oh, alat biadab, oh, oh, oh

Di tengahtengah permainan itu, Tomi menambah getarangetaran kecil di alat itu sehingga aku merasa melambung dibuatnya. Alat itu ternyata dapat pula mengeluarkan cairan dari bagian ujungnya, sehingga rahimku terasa disemprotdisemprot oleh cairan yang seolahseolah terasa seperti cairan air mani.

Oh, oh, Tomi, Anna sudah mau keluar

Dan seketika itu Tomi menghentikan alat itu, dan tampak sekali di wajahku rasa kecewa yang amat sangat.

Please Tomi, Anna mau, Anna nggak tahan Tomi, gerakgerak in lagi Tomi

Bukannya menurutiku, Tomi hanya senyumsenyum sendiri melihatku, dan aku pun tidak tahan akhirnya hanya memegangmemegang kelentitku saja. TibaTiba Tomi mengulurkan tangannya, dan mengajakku untuk berdiri.

Aku akan turuti permintaanmu jika kamu mau melakukan syaratnya
Please, Tomi apa aja akan aku lakuin
Kamu harus berjalanberjalan di luar kamar ini dengan alat itu
Siapa takut, tapi please Tomi, sudah tanggung tadi

Karena cincin yang masih terpasang di pentilpentil ku bergoyangbergoyang setiap kali aku bergerak, maka aku pun mulai terangsang lagi. Kemudian aku pun melangkah keluar kamar dan mulai berjalanberjalan. TibaTiba kurasakan alat itu kembali beroperasi mengorekmengorek isi rahimku, kakiku pun menjadi lemas karena sensasi yang kurasakan lebih hebat dengan posisi tubuhku yang berubahberubah dan kedua kaki ku yang tetap kupaksakan melangkah menambah rangsangan di kelentitku dan memekku.

Tomi, Anna tidak kuat berjalan lagi, oh please sambil berjalan terseokterseok aku pun merintihmerintih.
Ayo kamu teruskan atau alat itu kuhentikan

Akhirnya aku hanya dapat menuruti kemauan Tomi untuk terus berjalanberjalan dengan alat yang semakin dasyat mengorekmengorek rahimku dengan tonjolantonjolan nya itu. Ketika aku mencapai orgasmeku, Aku pun terjatuh lemas di sofa.

Kemudian, Tomi menghentikan alat itu tepat ketika aku mencapai orgasmeku dan dengan hatihati dia membereskan alat itu melepaskan nya dari pinggangku. Aku pun terkulai lemah untuk beberapa saat sebelum Tomi akhirnya membopongku ke dalam kamar Om Haryy dan merentangkan kedua pahaku untuk siap dimainkan oleh penis asli milik Om Haryy yang sudah berdiri tegak mencuat itu.

Thank you banget, Tomi, aku sangat menikmati permainan ini. Sekarang kamu boleh pulang, kata Om Sam sambil memberi Tomi sejumlah uang.
Om, Anna sudah nggak kuat lagi Om, dengan tampangku yang sudah pasrah demi melihat kemaluan Om Haryy yang sudah berdiri.
Om hanya memenuhi janji Om, Anna

Malam itu, akhirnya aku tertidur kecapaian setelah mendapatkan empat kali orgasme lagi dengan Om Haryy dari berbagai posisi. Keesokan harinya, aku terbangun dengan posisiku yang mengangkang lebar menantang.

Post Terkait