Cerita Dewasa

Sex High School part 2

Aku membanting tubuhku keatas kasur. Capek sekali, pada hari pertama saja sudah harus berlatih jadi model. Kami wanita harus berlatih dengan postur tubuh yang tegap dan menggunakan high heels 12 cm. Pinggang dan betisku hampir patah karena hal itu. Menyebalkan! Tiba-tiba dua buah tangan kekar memelukku dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun.
“Ya! Lepaskan tanganmu atau kupatahkan kedua lenganmu!” ancamku, tapi itu tentu tidak akan aku lakukan, aku masih terlalu lelah untuk mematahkan tangan seseorang.
“Lakukan saja. Lagipula kau yang akan menderita karena tangan ini tidak bisa membuatmu menjerit dan mendesah seperti kemarin apabila kau patahkan.” godanya. Wajahku terasa panas, pasti memerah. Sial!
“Menjauhlah dariku, aku mau tidur!” perintahku kesal. Dia terkekeh kecil.
“Kau pikir aku akan secepat itu melepasmu, nyonya Cho?” tanyanya dengan penuh penekanan di kata-kata ‘nyonya Cho’. Aku hanya mendengus kesal tanpa ada niat membalasnya. Perlahan dia melepas pelukannya.
Kalah juga kau tuan Cho Kyuhyun!‘ pikirku penuh kemenangan. Aku sedikit tersentak ketika ada sebuah tangan menyentuh betisku. “Apa yang kau lakukan Cho Kyuhyun!” jeritku.
“Diamlah! Aku hanya mencoba memijitmu. Aku tau kau pasti kesakitan dibagian betis dan pinggang. Dari sikapmu saja aku sudah tahu bahwa kau tidak terbiasa menggunakan high heels!” ucapannya sangat meremehkanku. Aku ini putri tunggal keluarga Choi, di didik agar menjadi seorang putri impian, menggunakan high heels bukan hal baru bagiku. Tapi, alih-alih melawan, aku malah menikmati pijatan Kyuhyun. Lumayan juga, setidaknya pegal-pegal ini bisa hilang.
Tanpa sadar, badanku yang tadi berbaring menyamping menjadi tertidur tengkurap. Tangannya yang tadi ada dibetisku naik ke pinggangku memijatnya sedikit keras tapi terasa sangat nyaman. Perlahan mataku menutup karena sangking enaknya pijatan Kyuhyun. Tiba-tiba dia menekan pinggangku kuat-kuat.
“Ya! Appo!” teriakku. Aku menatapnya dengan tatapan seakan memprotesnya.
“Enak saja kau tertidur begitu saja! Tidak ada yang gratis di dunia ini, Choi Eunri!” serunya sambil membalas tatapanku. Aku mendengus kesal.
“Kau mau apa, Cho Kyuhyun?” tanyaku kesal. Menyebalkan.
“Mandilah, setelah itu kau tidur. Biarkan aku memelukmu, jangan menolak!” pinta Kyuhyun.
‘Aneh’ pikirku lalu melaksanakan perintah Kyuhyun. Aku melangkahkan kakiku kekamar mandi. Saat ingin menutup pintu, aku terkejut ketika sebuah tangan menahan pintu, aku menjerit pelan.
“Aku berubah pikiran. Aku mandi bersamamu!” tegasnya. Kyuhyun memeluk pinggangku. Kami saling berhadapan. Dia begitu dekat sampai kening kami bersentuhan.
Aku dapat merasakan nafasnya menerpa wajahku. Benda lembut itu menyentuh bibirku. Dia menciumku. Terasa berbeda, lebih lembut dari yang kemarin. Membuatku begitu terlena, kakiku bahkan terasa tak bertulang. Aku bersyukur dia menahan tubuhku. Aku tidak menyadari kapan dia membawaku masuk kedalam bathtub. Air panas dan dingin mengguyur tubuh kami secara bersamaan. Dia melepas bibirnya dari bibirku, aku segera menarik nafas sepanjang-panjangnya. Aku dapat merasakan nafasnya di tengkukku, membuatku begitu merinding. Dia mengecup pelan leherku, aku bernafas tertahan. Aku mendorong tubuhnya.
“Jangan buat tanda dileherku, aku tidak mau orang-orang mengomentari kissmark dileherku!” ucapku.
“Kalau aku tidak mau?” dia menantangku.
“Tidak usah lanjutkan kegiatan ini! Aku bisa mengancammu Cho Kyuhyun!” Kyuhyun mendelik mendengar ancamanku. Dia menghelai nafas.
“Kau memang bisa mengancamku, nona!” ucapnya lalu turun ke dadaku.
Dia melepaskan kancing kemejaku satu persatu. Tentu saja, kalau dia merobeknya, aku mau pakai apa untuk sekolah besok? Setelah kancing kemejaku terlepas semua, dia melemparnya secara asal. Tanpa pikir panjang, dia melepas bra ku dan menghisap buah dadaku. Aku mendesah kala dia melakukannya. Dia melepaskan rok beserta celana dalamku dengan sangat cepat lalu melemparkannya. Ketiga jarinya masuk kedalam organ intimku, seperti kemarin. Ada sesuatu yang ingin keluar dibawah sana. Aku menjerit kala pelepasan itu datang.
“Manjakan adik kecilku, nona!” dia membuka celananya dan menunjukan miliknya yang begitu menantang didepanku.
Dengan sedikit ragu, aku menyentuh miliknya. Dia mendesah, membuatku terdorong untuk berbuat lebih. Aku mengenggam miliknya lalu mulai menggerakan tanganku, mengocoknya. Dia menggeram, aku berhenti menggerakan tanganku.
“Kenapa berhenti?” tanya Kyuhyun terlihat begitu kecewa.
“Ah… ituu… kau menggeram seperti itu, aku kira kau kesakitan jadi aku menghentikannya.” jawabku sedikit malu-malu. Dia tertawa mendengarnya.
“Terlihat sekali kau masih gadis. Lakukanlah lagi, itu nikmat.” ucap Kyuhyun. Aku tersenyum dan mengangguk.
Tanganku melanjutkan kegiatan tadi. Lagi-lagi dia menggeram. Entah keberanian dari mana, aku memasukan miliknya kedalam mulut mungilku. Dia terlihat begitu menikmatinya. Miliknya sangat besar, tidak muat dimulutku. Aku memaju-mundurkan kepalaku dan menjilat miliknya. Aku merasakan miliknya membesar. Dia menarik miliknya dan mendorongku ke dinding marmer. Ouch!
“Cukup, cukup main-mainnya, kita lakukan sekarang. Ini akan sedikit sakit, lakukan apapun yang kau inginkan. Kau boleh cakar aku atau apapun itu. Lampiaskanlah kepadaku!” ucapnya sambil menatapku. Aku merasakan tatapannya seakan memberikan keteduhan.
Dia mendorong miliknya untuk masuk. Baru kepalanya saja, aku sudah kesakitan. Dia mendorong sekali lagi, aku mencakar bahunya. Dengan sekali hentakan, dia memasukan semua miliknya kedalam pusat tubuhku. Rasanya sakit, sakit sekali! Membuatku sampai meneteskan air mata.
“Mianhae, apakah sesakit itu? Aku tidak akan menggerakannya sampai kau yang meminta.” Kyuhyun mengecup air mataku yang menetes.
“Sudah tak terasa sakit. Gerakanlah.” ucapan lampu hijau dariku membuatnya tersenyum.
Dia menggerakan miliknya keluar masuk dengan sangat pelan, membuatku frustasi. Aku menatapnya, dia menutup matanya dan keningnya mengerut. Aku tahu dia menahan diri agar tak bertindak kasar. Tapi ini terlalu pelan. Aku mendorongnya, membalik keadaan. Sekarang aku yang diatas, aku yang pegang kendali.
“Kau agresif sekali changiya.” dia berusaha menggodaku. Aku tertawa dan mulai bergerak naik turun dengan teratur.
“Akhh… jangan panggil aku changiya, namja pabo!”
Aku mendesah karena tindakanku sendiri. Gerakanku semakin tidak stabil. Dia juga terlihat sangat menikmatinya. Dia terus menggeram merasakan kenikmatan yang sama denganku. Dindingku terasa mengetat dan tak lama aku mengeluarkan orgasme yang pertama. Aku terus bergerak karena walau bagaimanapun, Kyuhyun belum mencapai orgasmenya. Tangannya juga memegang pinggangku dan membantuku bergerak naik turun. Aku mulai mendesah lagi. Aku dapat merasakan milik Kyuhyun membesar dalam diriku. Aku mengigit bibirku karena aku juga akan keluar sebentar lagi.
“Ahhh…” desahku dan Kyuhyun bersamaan ketika kami mendapat pencapaian. Aku ambruk di tubuh Kyuhyun. Tiba-tiba terpikir sesuatu olehku, Kyuhyun tidak memakai pengaman, aku juga tidak tahu pasti ini masa suburku atau tidak. Segera aku mencoba berdiri tapi ngilu di organ intimku membuatku terjatuh lagi.
“Waeyo changiya?” tanya Kyuhyun saat merasakan aku bergerak. Oke aku tak peduli dengan kata-kata changiya.
“Milikku sakit, aku tak bisa berdiri. Aku mau melihat kalender.” jawabku.
“Untuk apa kau melihat kalender?” tanya Kyuhyun heran.
“Aku ingin mengecek masa suburku.” jawabku. Dia tersenyum.
“Kenapa memangnya kalau kau hamil? Bukankah itu lebih baik? Kita bisa segera menikah.” ucap Kyuhyun sambil tertawa geli. Aku menjitak kepalanya.
“Kau gila? Aku masih kelas satu tahu! Kalau aku hamil, bagaimana dengan masa depanku?” aku menatapnya kesal. Dia malah tertawa.
“Arra, arra, aku akan menggendongmu keluar. Tapi, sebaiknya kita mengeringkan tubuh. Aku tidak mau kita masuk angin gara-gara tubuh kita yang basah bersentuhan dengan AC.”
Dia mengeluarkan miliknya dariku lalu menggendongku keluar dari bathtub. Dia mengambilkan handuk dan mengeringkan tubuhku lalu mengeringkan tubuhnya sendiri. Aku segera mengambil baju handuk dan memakainya. Kyuhyun juga melakukan hal yang sama. Dia menggendongku kearah kalender. Aku menghitung. Akhirnya aku menarik nafas lega, aku tidak dalam masa subur.
“Jadi, bagaimana?” tanyanya.
“Tidak. Masa suburku masih seminggu lagi.” jawabku sambil memperhatikan kalender. Kyuhyun mendengus kecewa. “Kau kenapa huh?” tanyaku saat mendengar dengusan kecewa Kyuhyun.

“Bukankah kalau kau hamil kita bisa menikah lebih cepat?” tanya Kyuhyun sedikit memelas dan berhasil mendapat hadiah jitakan keras dariku.
“Hei, kalau aku hamil, hal pertama yang kulakukan adalah membunuhmu!” ancamku. Kami tertawa bersama. “Aku bukan kekasihmu, pabo.”
Kyuhyun membawa tubuhku yang masih dalam gendongannya keatas ranjang. Dia merebahkan tubuhku dengan perlahan.
“Tidurlah, Eun.” dia mencium keningku dalam-dalam.
Sayup-sayup aku mendengar Kyuhyun bergumam. Aku tidak terlalu mendengarnya. Apa aku tanyakan besok saja? Ya, besok baru kutanyakan.

Mataku terbuka lebar. Hal pertama yang menjadi suguhanku adalah wajah tampan Kyuhyun. Dia memang tampan, mengapa aku baru menyadarinya ya? Masih segar dalam ingatanku percintaan kami semalam. Seluruh sentuhannya ditubuhku terasa begitu nikmat, ya sangat memabukkan. Dan, gesekan pusat tubuhku yang bersatu benar-benar tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Wajahku sedikit merona mengingat dia berkali-kali mengatakan tentang menikah semalam. Apakah dia juga jatuh cinta padaku?
“Hei, kau sedang membayangkan apa sampai wajahmu merona begitu?” tanya Kyuhyun berhasil membuatku terlonjak kaget.
“Ya! Kau mengejutkanku!” teriakku tepat diwajahnya. Dia tertawa keras.
“Oh, ya, ngomong-ngomong, ini jam berapa?” tanyanya setelah berhasil menghentikan tawanya.
“Entahlah, jam 7.30 kurasa.” jawabku.
“Oh, jam 7.30.” Kyuhyun menarik selimut lagi. Eh, tunggu dulu…
“APA?! JAM 7.30!!!” teriak kami dengan sangat keras. Aku dan Kyuhyun berlari kekamar mandi secepatnya. Ayolah, Kami bahkan sudah melewatkan jam sarapan pagi.

“Excause me, I am sorry cause I am late today.” ucapku begitu sampai di depan kelas. Guru dan teman-temanku melihat kearahku.
“Kamu telat sepuluh menit, tidak ada pengecualian! Temui Miss Evelyn di ruangannya sekarang!” pinta Han Sonssaengim. Aku menelan ludahku yang entah mengapa mencekik dileher.
Oke, sekarang aku dalam masalah karena Cho Kyuhyun. Sebenarnya aku tidak telat tadi tapi karena Kyuhyun sialan itu membuka seragamku setelah mengguyurku dengan air shower. Kami harus mengeringkannya dan memohon-mohon kepada ibu asrama agar bersedia meminjamkan mesin pengering serta setrika untuk mengeringkan seragam kami yang basah kuyup. Karena tidak terbiasa, meskipun baju kami kering tapi terlihat lusuh dan tidak rapi karena disetrika secara asal.
Aku berdiri di depan pintu ruangan Miss Evelyn yang sangat besar dan mewah bahkan diukir tangan dengan gambar-gambar para dewa-dewi gunung Olympus dengan Dewa Zeus yang memegang petir di puncak pintu. Tanganku terulur mengetuk pintu kayu jati yang bahkan masih dapat kucium wangi kayu jatinya.
“Siapa?” tanya suara seorang wanita dari dalam ruangan. Sudah pasti wanita ini adalah Miss Evelyn.
“Choi Eunri, salah satu murid.” jawabku.
“Ada keperluan apa?”
“Saya diminta Han Songsaenim mendatangi anda karena masuk kelas selama telat sepuluh menit.”
“Ah, murid bermasalah. Silahkan masuk.”
Aku membuka pintu ini secara perlahan. Di dalam ruangan Miss Evelyn, ada Cho Kyuhyun juga Kim Heechul serta Hangeng, pasangannya Heechul. Mereka semua menatap kearahku. Aku berdiri disebelah Heechul.
“Anda datang tepat diwaktu pertanyaan nona Choi. Jadi, jelaskan apa penyebab kalian terlambat sampai lima bahkan sepuluh menit?” pertanyaan telak Miss Evelyn membuat kami berempat tak bisa berbicara.
“Em… itu… itu…” hanya kata-kata itulah yang bisa aku dan Heechul lontarkan. Hangeng menunduk sambil sesekali menggigit bibirnya dan Kyuhyun bersikap sok tenang padahal keringat terus menetes di dahinya tanda kegugupan yang luar biasa.
“Kalian mau jelaskan atau saya sendiri yang akan menyuruh staff mengecek tubuh dan kamar kalian?”
“TIDAK! Jangan, kami akan jelaskan tapi beri privasi menjelaskannya perorangan.” ucapku, Heechul, Hangeng, dan Kyuhyun bersamaan. Ayolah, apa yang akan teman-temanku katakan apabila kamar kami digeledah oleh staff?
“Baiklah. Choi Eunri dan Cho Kyuhyun, kalian sekamar, kan?”
“Ne, Miss Evelyn.” jawab kami berdua.
“Kalau begitu, kalian menjelaskan duluan. Hangeng dan Heechul, kalian menunggu diluar dulu?”
Hangeng dan Heechul mengangguk lalu melangkah keluar ruangan. Begitu terdengar suara pintu tertutup rapat, Miss Evelyn kembali menatap kami. Aku menunduk sangking takutnya.
“Jadi?”
“Ah, itu kami melakukan sesuatu semalam hingga telat bangun.” jawabku masih menunduk.
“Apa yang kalian maksud dengan ‘sesuatu’ itu?” Miss Evelyn semakin tajam menatap kearahku.
“Ngg… itu, b-bercinta.” dapat kudengar suara Kyuhyun agak bergetar menahan malu. Wajahku merona karena malu.
“Apa? Bercinta? Kalian baru dua hari sekamar dan sudah bercinta?” tanya Miss Evelyn.
“Kami minta maaf, Miss.” aku dan Kyuhyun menjawab bersamaan.
“Tidak-tidak, jangan minta maaf. Itu sangat bagus. Kalau begitu, kembalilah ke kamar. Lanjutkanlah aktifitas kalian. Dan saya yakin ini pengalaman pertamamu Eunri jadi kalau anda butuh penjelasan atau sesuatu, anda bisa temui saya secara pribadi di ruangan saya.” aku dan Kyuhyun mendongak menatap Miss Evelyn tak percaya. Dia serius? “Silahkan keluar dari ruangan saya dan panggil Hangeng serta Heechul. Kuharap mereka membawa alasan yang sama. Akan saya beri tahu kepada guru kalian bahwa kalian tidak masuk kelas.”
“N-ne, Miss Evelyn. Kami permisi.” aku dan Kyuhyun menunduk hormat lalu segera keluar dari ruangan terkutuk ini.
“Giliranmu, bro!” ucap Kyuhyun sambil menyikut pelan perut Hangeng. Hangeng dan Heechul segera memasuki ruangan Miss Evelyn.
“Hei, apa menurutmu miss Evelyn kurang waras? Masa muridnya ketahuan bercinta malah senang.” tanyaku. Kyuhyun hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.

Post Terkait